Solo - Kabar duka datang dari dunia seni tradisi. Dalang kondang Ki Anom Suroto meninggal dunia di usia 77 tahun, Kamis (23/10) pagi sekitar pukul 07.00 WIB di RS Dr. Oen Kandangsapi, Solo.
Jenazah maestro pewayangan dengan nama lengkap Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro itu langsung dimakamkan sore harinya di pemakaman keluarga di Juwiring, Klaten.
Putra beliau, Jatmiko, menceritakan kalau sebelum dimakamkan, jenazah sempat disemayamkan di rumah duka kawasan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Sejumlah tokoh dunia wayang dan para seniman hadir memberi penghormatan terakhir.
“Pesan Bapak, kami diminta terus melanjutkan perjuangan beliau di dunia pedalangan dan tetap rukun, kompak selalu,” kata Jatmiko.
Sebelum tutup usia, Ki Anom Suroto sempat dirawat empat hari karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Di masa-masa itu, beliau masih sempat berpesan agar anak-anaknya menjaga warisan seni wayang
sesuatu yang sudah jadi bagian hidupnya sejak kecil.
Lahir di Juwiring, Klaten, pada 11 Agustus 1948, Ki Anom sudah akrab dengan wayang sejak umur 12 tahun. Ayahnya, Ki Sadiyun Harjodarsono, juga seorang dalang ternama dan jadi guru pertama dalam hidupnya.
Tak berhenti di situ, Ki Anom terus memperdalam ilmunya lewat berbagai lembaga budaya ternama: Himpunan Budaya Surakarta (HBS), Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, hingga Habiranda Yogyakarta.
Dari panggung kecil di kampung, kiprahnya akhirnya meluas ke panggung dunia. Ia tercatat sebagai dalang Indonesia pertama yang tampil di lima benua dari Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Jerman, Australia, hingga Rusia.
Kini, layar kehidupan Ki Anom Suroto memang sudah ditutup. Tapi suara gamelan, alunan tembang, dan kisah para ksatria yang dulu ia bawakan, akan terus hidup di hati para penggemarnya dan di tangan generasi penerusnya.(bank)
Sang Dalang Legendaris yang Akhirnya Menutup Layar Kehidupan 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!